Selasa, 04 November 2014

APAKAH SAINS MENYINGKIRKAN TUHAN PERSONAL



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Apakah sains telah menyebabkan agama tidak masuk akal lagi secara intelektual? Apakah sains itu menyingkirkan adanya Tuhan yang personal? Ini adalah sebagian pertanyaan yang menunjukkan masalah sains dan agama. Dimana sains seakan-akan menggeser kemapanan posisi agama di dalam kehidupan manusia, dan membuat mereka lalai akan agama sebagai konsekuensi maju dan berkembangnya sains dan teknologi.  
Menalar Tuhan, itulah yang semenjak permulaannya menjadi obsesi fisafat. Menggapai Tuhan melalui pikiran menjadi hasrat tinggi filsafat sampai 200 tahun lalu. Seluruh filsafat india berkisar sekitar pertanyaan tentang apa yang sebenarnya menjadi dasar segala – galanya. Filsafat yunani, 2500 tahun lalu, semula mendobrak keagamaan tradisional bersama dewa – dewinya dengan bertanya dengan bertanya tentang hakekat dunia.
Diskursus antara agama dan sains memang sudah lama diperdebatkan oleh para  ilmuwan (saintis) begitu juga oleh para agamawan (teolog), baik dari hubungan keduanya maupun problem yang menjadikan keduanya tidak dapat berkolaborasi, berintegrasi. Pasalnya ada yang beranggapan bahwa keduanya saling bertolak belakang, mereka menolak mentah-mentah sains. Alasan golongan ini Berangkat dari sejarah kelam yang terjadi di dalam tubuh sains Barat, sebut saja kasus ilmuwan Barat seperti galileo galilei, Baruch Spinoza, dan Giordano Bruno. Mereka dikutuk, diburu, dikurung, diinterogasi dan bahkan dibunuh. Golongan ini menggagas sekulerisasi demi mencapai kemajuan seperti di Barat. Bahkan, umat Islam yang membaca kemajuan Barat sebagai solusi mengatasi kemunduran sains Islam, menggagas sekulerisasi juga.
Terlepas dari hubungan agama dan sains, tidak dapat dipungkiri, bahwa sains (ilmu) telah membawa manusia menuju dunia yang penuh kemapanan. Bagaimana tidak, di setiap lini kehidupan manusia dewasa ini baik politik, ekonomi, sosial, bahkan agama sendiri tidak terlepas dari bantuan sains. Komputerisasi sudah menjadi hal wajib untuk dilakukan manusia di seluruh kehidupannya. Namun, jika mengingat hubungan keduanya di berbagai agama-agama sangatlah bermacam-macam. Bagi agama Islam, sains berdampak pada keimanan seorang hamba terhadap kekuasaan Tuhannya, semakin ia menemukan bukti-bukti kekuasaan Tuhannya, maka semakin bertambah dan kuat pula keimanannya, inilah pandangan integrasi agama dan sains yang dipakai umat Islam.

B.       Rumusan Masalah
Makalah ini mencoba mengurai benang kusut problematika hubungan agama dan sains. Kemudian penulis juga menawarkan resep yang mungkin bisa digunakan untuk mengintregasikan antara sains dan agama.
1.         Pengertian Sains dan Agama
2.         Empat Tipologi Hubungan Sains & Agama
3.         Sains dan agama: Mengatasi Persoalan Problematis
4.         Dapatkah Sains Menalar Tuhan Personal




BAB II
PEMBAHASAN

A.            Pengertian Agama dan Sains
Sebelum membahas hubungan agama dan sains, kita mengartikan makna agama dan sains terlebih dahulu. Untuk memberikan batasan tentang makna agama memang agak sulit dan sangat subyektif. Karena pandangan orang terhadap agama berbeda-beda. Ada yang memandangnya sebagai suatu institusi yang diwahyukan oleh Tuhan kepada orang yang dipilihnya sebagai nabi atau rasulnya, dengan ketentuan-ketentuan yang telah pasti. Ada yang memandangnya sebagai hasil kebudayaan, hasil pemikiran manusia, dan ada pula yang memandangnya sebagai hasil dari pemikiran orang - orang yang jenius, tetapi ada pula yang menganggapnya sebagai hasil lamunan, fantasi, ilustrasi.[1]
Kata ”agama” berasal dari bahasa sangsekerta mempunyai beberapa arti. Satu pendapat mengatakan bahwa agama berasal dari dua kata, yaitu a dan gam yang berarti a = tidak, sedangkan gam = kacau, sehingga berarti tidak kacau (teratur).[2] Ada juga yang mengartikan a = tidak, sedangkan gam = pergi, berarti tidak pergi, tetap di tempat, turun temurun.[3]
Prof. Dr. H. Mukti Ali mengatakan bahwa agama adalah kepercayaan akan adanya Tuhan yang Maha Esa dan hukum yang diwahyukan kepada utusan-utusanNya untuk kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.[4]
Menurut beliau ciri-ciri agama itu adalah:
- Mempercayai adanya Tuhan yang Maha Esa
- Mempunyai kitab suci dari Tuhan yang Maha Esa
- Mempunyai rasul/utusan dari Tuhan yang Maha Esa
- Memepunyai hukum sendiri bagi kehidupan penganutnya berupa perintah dan petunjuk.
Sedangkan makna sains dalam bahasa Inggris kata science berasal dari kata Latin scientia yang berasal dari kata scire yang berarti mengetahui atau belajar. The Liang Gie mengatakan bahwa ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai satu kebulatan. Sains  (ilmu) dapat dibedakan menurut maknanya, yaitu pengetahuan, aktivitas dan metode.[5]

B.            Empat Tipologi Hubungan Sains & Agama
Ian G. Barbour (2002:47) mencoba memetakan hubungan sains dan agama dengan membuka kemungkinan interaksi di antara keduanya. Melalui tipologi posisi perbincangan tentang hubungan sains dan agama, dia berusaha menunjukkan keberagaman posisi yang dapat diambil berkenaan dengan hubungan sains dan agama. Tipologi ini terdiri dari empat macam pandangan, yaitu: Konflik, Independensi, Dialog, dan Integrasi yang tiap-tiap variannya berbeda satu sama lain.[6]

a.      Konflik
Pandangan konflik ini mengemuka pada abad ke–19, dengan tokoh-tokohnya seperti: Richard Dawkins, Francis Crick, Steven Pinker, serta Stephen Hawking. Pandangan ini menempatkan sains dan agama dalam dua ekstrim yang saling bertentangan. Bahwa sains dan agama memberikan pernyataan yang berlawanan sehingga orang harus memilih salah satu di antara keduanya. Masing-masing menghimpun penganut dengan mengambil posisi-posisi yang berseberangan. Keduanya hanya mengakui keabsahan eksistensi masing-masing.
Pertentangan antara kaum agamawan dan ilmuwan di Eropa ini disebabkan oleh sikap radikal kaum agamawan Kristen yang hanya mengakui kebenaran dan kesucian Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sehingga siapa saja yang mengingkarinya dianggap kafir dan berhak mendapatkan hukuman. Di lain pihak, para ilmuwan mengadakan penyelidikan-penyelidikan ilmiah yang hasilnya bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh pihak gereja (kaum agamawan). Akibatnya, tidak sedikit ilmuwan yang menjadi korban dari hasil penemuan oleh penindasan dan kekejaman dari pihak gereja. Contoh kasus dalam hubungan konflik ini adalah hukuman yang diberikan oleh gereja Katolik terhadap Galileo Galilei atas aspek pemikirannya yang dianggap menentang gereja yang kita kenal dengan teori Heliosentris dan menentang penafsiran bibel secara harfiah (literalisme biblikal).[7] Demikian pula penolakan gereja Katolik terhadap teori evolusi Darwin pada abad ke-19.
Armahedi Mahzar berpendapat tentang hal ini, bahwa penolakan fundamentalisme religius secara dogmatis ini mempunyai perlawanan yang sama dogmatisnya di beberapa kalangan ilmuwan yang menganut kebenaran mutlak obyektivisme sains.
Identifikasinya adalah bahwa yang riil yaitu dapat diukur dan dirumuskan dengan hubungan matematis. Mereka juga berasumsi bahwa metode ilmiah merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya dan dipaham. Pada akhirnya, penganut paham ini cenderung memaksakan otoritas sains ke bidang-bidang di luar sains. Sedangkan agama, bagi kalangan saintis Barat dianggap subyektif, tertutup dan sangat sulit berubah. Keyakinan terhadap agama juga tidak dapat diterima karena bukanlah data publik yang dapat diuji dengan percobaan dan kriteria sebagaimana halnya sains. Agama tidak lebih dari cerita-cerita mitologi dan legenda sehingga ada kaitannya sama sekali dengan sains.[8]
Jelaslah bahwa pertentangan yang terjadi di dunia Barat sejak abad lalu sesungguhnya disebabkan oleh cara pandang yang keliru terhadap hakikat sains dan agama. Adalah tugas manusia untuk merubah argumentasi mereka, selama ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka kembangkan itu bertentangan dengan agama. Sains dan agama mempengaruhi manusia dengan kemuliaan Sang Pencipta dan mempengaruhi perhatian manusia secara langsung pada kemegahan alam fisik ciptaan-Nya. Keduanya tidak saling bertolak belakang, karena keduanya merupakan ungkapan kebenaran.[9]

b.             Independensi
Tidak semua saintis memilih sikap konflik dalam menghadapi sains dan agama. Ada sebagian yang menganut independensi, dengan memisahkan sains dan agama dalam dua wilayah yang berbeda. Masing-masing mengakui keabsahan eksisitensi atas yang lain antara sains dan agama. Baik agama maupun sains dianggap mempunyai kebenaran sendiri-sendiri yang terpisah satu sama lain, sehingga bisa hidup berdampingan dengan damai. Pemisahan wilayah ini dapat berdasarkan masalah yang dikaji, domain yang dirujuk, dan metode yang digunakan. Mereka berpandangan bahwa sains berhubungan dengan fakta, dan agama mencakup nilai-nilai. Dua domain yang terpisah ini kemudian ditinjau dengan perbedaan bahasa dan fungsi masing-masing.
Analisis bahasa menekankan bahwa bahasa ilmiah berfungsi untuk melalukan prediksi dan kontrol. Sains hanya mengeksplorasi masalah terbatas pada fenemona alam, tidak untuk melaksanakan fungsi selain itu. Sedangkan bahasa agama berfungsi memberikan seperangkat pedoman, menawarkan jalan hidup dan mengarahkan pengalaman religius personal dengan praktek ritual dan tradisi keagamaan. Bagi kaum agamawan yang menganut pandangan independensi ini, menganggap bahwa Tuhanlah yang merupakan sumber-sumber nilai, baik alam nyata maupun gaib. Hanya agama yang dapat mengetahuinya melalui keimanan. Sedangkan sains hanya berhubungan dengan alam nyata saja. Walaupun interpretasi ini sedikit berbeda dengan kaum ilmuwan, akan tetapi pandangan independensi ini tetap menjamin kedamaian antara sains dan agama.
Barbour mencermati bahwa pandangan ini sama-sama mempertahankan karakter unik dari sains dan agama. Namun demikian, manusia tidak boleh merasa puas dengan pandangan bahwa sains dan agama sebagai dua domain yang tidak koheren.
Bila manusia menghayati kehidupan sebagai satu kesatuan yang utuh dari berbagai aspeknya yang berbeda, dan meskipun dari aspek-aspek itu terbentuk berbagai disiplin yang berbeda pula, tentunya manusia harus berusaha menginterpretasikan ragam hal itu dalam pandangan yang lebih komplementer.[10]
c.       Dialog
Pandangan ini menawarkan hubungan antara sains dan agama dengan interaksi yang lebih konstruktif daripada pandangan konflik dan independensi. Diakui bahwa antara sains dan agama terdapat kesamaan yang bisa didialogkan, bahkan bisa saling mendukung satu sama lain. Dialog yang dilakukan dalam membandingkan sains dan agama adalah menekankan kemiripan dalam prediksi metode dan konsep. Salah satu bentuk dialognya adalah dengan membandingkan metode sanins dan agama yang dapat menunjukkan kesamaan dan perbedaan.
Dalam menghubungkan agama dan sains, pandangan ini dapat diwakili oleh pendapat Albert Einstein, yang mengatakan bahwa “Religion without science is blind : science without religion is lame“. Tanpa sains, agama menjadi buta, dan tanpa agama, sains menjadi lumpuh. Demikian pula pendapat David Tracy, seorang teolog Katolik yang menyatakan adanya dimensi religius dalam sains bahwa intelijibilitas dunia memerlukan landasan rasional tertinggi yang bersumber dalam teks-teks keagamaan klasik dan struktur pengalaman manusiawi.
Penganut pandangan dialog ini berpendapat bahwa sains dan agama tidaklah sesubyektif yang dikira. Antara sains dan agama memiliki kesejajaran karakteristik yaitu koherensi, kekomprehensifan dan kemanfaatan. Begitu juga kesejajaran metodologis yang banyak diangkat oleh beberapa penulis termasuk penggunaan kriteria konsistensi dan kongruensi dengan pengalaman. Seperti pendapat filosof Holmes Rolston yang menyatakan bahwa keyakinan dan keagamaan menafsirkan dan menyatakan pengalaman, sebagaimana teori ilmiah menafsirkan dan mengaitkan data percobaan. Beberapa penulis juga melakukan eksplorasi terhadap kesejajaran konseptual antara sains dan agama, disamping kesejajaran metodologis.
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesejajaran konseptual maupun metodologis menawarkan kemungkinan interaksi antara sains dan agama secara dialogis dengan tetap mempertahankan integritas masing-masing.           
d.                 Integrasi
Pandangan ini melahirkan hubungan yang lebih bersahabat daripada pendekatan dialog dengan mencari titik temu diantara sains dan agama. Sains dan doktrin-doktrin keagamaan, sama-sama dianggap valid dan menjadi sumber koheren dalam pandangan dunia. Bahkan pemahaman tentang dunia yang diperoleh melalui sains diharapkan dapat memperkaya pemahaman keagamaan bagi manusia yang beriman.[11]
Armahedi Mahzar mencermati pandangan ini, bahwa dalam hubungan integratif memberikan wawasan yang lebih besar mencakup sains dan agama sehingga dapat bekerja sama secara aktif. Bahkan sains dapat meningkatkan keyakinan umat beragama dengan memberi bukti ilmiah atas wahyu atau pengalaman mistis. Sebagai contohnya adalah Maurice Bucaille yang melukiskan tentang kesejajaran deskripsi ilmiah modern tentang alam dengan deskripsi Al Qur’an tentang hal yang sama. Kesejajaran inilah yang dianggap memberikan dukungan obyektif ilmiah pada pengalaman subyektif keagamaan. Pengakuan keabsahan klaim sains maupun agama ini atas dasar kesamaan keduanya dalam memberikan pengetahuan atau deskripsi tentang alam.[12]
Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam hubungan integrasi ini. Pendekatan pertama, berangkat dari data ilmiah yang menawarkan bukti konsklusif bagi keyakinan agama, untuk memperoleh kesepakatan dan kesadaran akan eksistensi Tuhan. Pendekatan kedua, yaitu dengan menelaah ulang doktrin-doktrin agama dalam relevansinya dengan teori-teori ilmiah, atau dengan kata lain, keyakinan agama diuji dengan kriteria tertentu dan dirumuskan ulang sesuai dengan penemuan sains terkini.[13]
Para saintis tidak dapat mendefinisikan kebenaran pengetahuannya secara pasti, walaupun dengan memberikan kriteria-kriteria tertentu untuk membantu perkembangan pengetahuannya. Adalah sebuah kepastian bahwa sains tidak dapat menjelajahi seluruh realitas karena sifatnya yang relatif, membuat pencarian pengetahuan tak akan ada habisnya dan fenomena baru akan muncul terus-menerus. Akhirnya mayoritas manusia akan lebih disibukkan dengan pengetahuan-pengetahuan tentang dunia daripada kontemplasi tentang Pencipta. 
Setelah mengetahui pandangan keempat tipe hubungan sains dan agama, penulis lebih mendukung dan mengakomodasi pendekatan integrasi dalam menghubungkan sains dan Islam, karena dalam hubungan integrasi ini keanekaragaman realitas yang relatif sepadu dengan Kesatuan Realitas yang Mutlak. Di mana realitas sains memiliki konvergensi dengan realitas yang diungkapkan Al-Qur’an mengenai fenomena alam dan manusia. Tanpa integritas keduanya, manusia akan terus menghadapi problematika modernitas sains di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
C.           Sains dan agama: Mengatasi Persoalan Problematis
Akibat dari kesalahan historis yang monumental hubungan antara sains dan agama sering disalah pahami oleh siswa, dengan keyakinan bahwa keduanya tidak sejalan. Ini pokok kebingungan ini lazim kita temukan dalam delapan pernyataan yang sangat sering diucapkan oleh siswa di inggris (biasanya non-Muslim, tapi sebagian muslim juga).
Delapan pernyatan itu adalah sebagai berikut:[14]

1.             Jika Tuhan ada, kamu harus bisa membuktikan secara ilmiah    
perkiraan bahwa segala sesuatu dapat dibuktikan secara ilmiah, adalah kesalahan yang terjadi. Sains tidak berkepentingan menjawab masalah ketuhanan. Sarana, tujuan dan perencanaan di alam semesta bukanlah hal yang disuarakan oleh sains. Berbagai macam metode sains tidak mampu menjawab persoalan ini, jawaban yang sebenarnya harus dicari diluar sains.

2.             Manusia tidak lebih dari sekedar sebuah mekanisme kemiawi yang sangat rumit
sekalipun benar manusia adalah mekanisme kimia yang sangat kompleks, tetapi ketika kata “tidak lebih atau sekedar” masuk ke dalam kalimat, maka pernyataan ini menjadi salah. Karena kimia tidak mengenal kejujuran, kasihan, kepercayaan. Padahal manusia memiliki semua itu.

3.             Penjabaran ilmiah sekaligus keagamaan dari peristiwa yang sama tidak bisa diterima
sudah menjadi kesepakatan umum, untuk mengkaji objek atau peristiwa diperlukan berbagai jalan dan cara. Adalah sains salah satu cara tersebut, namun perlu disadari sains tidak bisa menjawab objek tersebut secara holistik.  Sains menggangap objek dan peristiwa sepenuhnya berada dalam kerangka berat, volume, dan komposisi kimia dan ia tidak berbicara sedikit pun mengenai asal mula dan tujuan prosesnya. Agamalah yang mengambil peran untuk itu.

4.             Jika kehidupan berasal dari Tuhan, ilmuwan tidak akan mampu menemukan proses keberadaannya.
Inilah pernyataan yang dibantah oleh penumuan-penemuan sains, dimana semakin banyak pembuktian semakin menjauhkan mereka dari agama mereka. Proses kejadian petir dan kilat misalnya, sebelumnya mereka menggangap bahwa keduanya adalah dari Tuhan, namun ketika lahir penemuan bahwa keduanya berasal aliran elektron yang menyebabkan memanasnyaudara semakin cepat. Inilah yang mengusik para pendeta di Barat terhadap penemuan saintis.
Berbeda dengan ilmuwan-ilmuwan muslim, karya-karya sains mereka semakin menambah keimanan terhadap Tuhan mereka.           

5.      Pernyataan “Tuhan menciptakan manusia” dan “manusia adalah hasil dari proses evolusi” tidak perlu dipertentangkan lagi.           
pernyataan bahwa manusia adalah hasil dari proses evolusi sering dilontarkan oleh saintis Barat, mereka tidak menyakini bahwa Tuhan menciptakan manusia seketika. Alam semesta menurut mereka berjalan dengan sendirinya tanpa ada yang mengatur, inilah sebagian pendapat yang membedakan antara saintis Barat dan saintis muslim. Dimana saintis muslim menggabungkan antara intuisi dan logika, sedangkan saintis Barat hanya berpegang pada logika saja.

6.      Keyakinan agama dapat dijabarkan dalam kerangka psikologis     
memang keyakinan agama bisa dijelaskan dalam kerangka psikologis. Namun ketika psikologis modern melangkah pada ranah “menghilangkan keyakinan agama” maka kita harus meluruskan hal ini. Keyakinan agama bukan hanya bertujuan untuk menenangkan hati dan jiwa saja, tapi lebih dari itu. Agama merupakan suatu aturan yang menuntun manusia ke jalan yang di ridhoiNya. Menghilangkan agama hanya karena penjabaran teoritis tentang peran dan tujuannya adalah sesuatu yang tidak dibenarkan.

7.      Asal mula hukum-hukum sains menyebabkan mukjizat dianggap sebagai sesuatu yang tidak mungkin adanya           
perlu ditekankan disini, bahwa sains hanya sebatas menringkas, menguraikan, menggambarkan alam berperilaku sebagaimana biasanya. Kenyataan bahwa kebanyakan perilaku rentan pada deskripsi semacam ini tidak meniadakan kemungkinan pengecualian.
Hukum gerakan newton misalnya ketika dihadapkan pada partikel-partikel yang sangat kecil yang bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, maka mekanika newton mencapai batasnya juga, begitu juga relativitas Enstein dan fisika quantum. maka, peristiwa-peristiwa mengagumkan yang terjadi di sepanjang masa para nabi dan rasul –menyembuhkan orang buta, menghidupkan orang mati, atau membacakan ayat-ayat wahyu yang tidak dapat ditangkap oleh akal manusia- tidak bisa dipahami dalam kerangka penerapan hukum fisika, namun peristiwa tersebut tetap terjadi. Bukan berarti hukum fisika dilanggar, tapi peristiwa ini adalah teka-teki yang berada di luar jangkaun wilayah penerapan fisika.[15]   

8.      Keyakinan tidak berperan dalam sains           
Mereka yang mengira bahwa keyakinan tidak berperan adalah anggapan yang keliru. secara implisit sains mempercayai bahwa segala sesuatu yang belum diketahui dapat diprediksi dari dari sesuatu yang sudah diketahui. Ini ditunjukkan dari rumus (formula) yang diambil dari eksperimen sebelumnya untuk memprediksi objek yang diteliti. Sebelum ilmuan mengkaji alam semesta, ia juga harus mempunyai keyakinan pada komprehensibilitas alam semesta. Artinya, alam semesta itu bisa dimengerti dan dipahami jika setelah ilmuan yakin bahwa alam semesta bisa diteliti.

D.      Dapatkah Sains Menalar Tuhan Personal
Pada permulaan modernitas pun pertanyaan tentang Tuhan masih tetap berada di pusat pemikiran para filsof terpenting, akan tetapi tanda – tanda sebuah peralihan mendalam sudah mulai kelihatan. Filosof – filosof Inggris dan Skotlandia, semisal Hobbes, Locke, Berkeley, dan Hume menyingkirkan tertanyaan tentang Tuhan demi prndekatan impiris. Paradigma rasionalitas bukan lagi spekulasi filosofis, melainkan ilmu – ilmu alam, dan Tuhan bukan objek ilmu alam.

1.             Cakrawala Tak Terbatas
Manusia adalah mahluk bertanya. Ia selalu bertanya, apapun yang berhadapan dengannya dipertanyakan. Manusia adalah mahluk yang tidak pernah sampai. Tak ada pengetahuan apapun yang bisa membuatnya tidak mau bertanya lebih lanjut sebab manusia memerlukan pengetahuan, rasa ingin tahu dan bertindak pada diri manusia adalah dua hal yang berlawanan sehingga membuatnya ingin tahu lebih jauh.[16]
Manusia memiliki kekhasan dari mahluk lainya, walau memiliki pengetahuan terbatas tetap manusia memiliki wawasan yang tak terbatas, sehingga mendorongnya rasa ingin tahunya lebih jauh, maka tak pernah ada pengetahuan yang dapat memenuhi cakrawala perhatianya. Bertanya adalah sifat manusia atas rasa ingin tahu untuk mencapai pengetahuan yang lebih benar lagi. Manusia ingin tahu demi untuk tahu, maka karena itu juga ia bertanya tentang Tuhan.

2.             Pertanyaan Tentang Tuhan
Pertanyaan tentang Tuhan tidak datang dari udara kosong. Manusia sudah lama menyambah Tuhan dalam berbagai bentuk dan filsafat dimana pun tertarik untuk memikirkan Tuhan itu dari berbagai sudut. Di abad ke-21 sekrang, Tuhan lebih mendesak. Sebab dalam 300 tahun terakhir terjadi suatu perkembangan yang dalam sejarah umat manusia, kepercayaan akan Tuhan bukan laggi barang tentu. Dengan menyingsingnya masa pencerahan, di abad ke-17 Dan ke-18, filsafat menjadi kritis terhadap agama. Seduah itu, filsafat dan juga berbagai ilmuwan bahkan menolak adanya Tuhan, sedangkan di abad ke-20 filsafat Ketuhanan sendiri seakan – akan menghilang dari wacana filsafat. Filsafat abad ke-20 lebih memikirkan manusia dan pengetahuanya, bahasa manusia, masyarakat dan hal budaya, Tuhan tidak lagi menjadi objek utama diskursus filsafat.
Kenyataan tersebut didasarkan atas ketidak minatan filsafat tentang hal Tuhan lagi, selain itu setelah munculnya paham eteisme, banyak filosof secara diam – diam sepakat bahwa filsafat tidak dapat berbicara dengan Tuhan. Menurut Immanuel Kant (1724-1804), Tuhan tidak menjadi objek pengetahuan manusia, jadi nalar tidak dapat mengetahui apa pun mengenai Tuhan. Hal ini searah dengan kecenderungan umum masyarakat modern, berpendapat bahwa Tuhan adalah urusan kepercayaan masing – masing orang.
Dilain pihak orang beragama sendiri kelihatan ada kecenderungan semakin kuat untuk menolak pemikaran rasioalan tentang Tuhan, atau sekurang – kurangnya menganggapnya tidak bermanfaat.



3.             Menolak Penalaran
Hampir sama dengan kalangan teolog, mereka yang berfaham Fundamentalisme yang pertama muncul di beberapa kalangan Protestan di Amerika Serikat menolak paham Darwinisme, meraka berpegang pada arti harfiah dan ketidak sesatan seratus persen Kitab Suci dan menyatakan dasar keyakinan mereka semata – mata pada iman, serta menolak segala pemikiran kritis tentang iman.  Fundamentalis yakin bahwa bagi orang beriman tak mungkin ada keragu – raguan tentang imanya, maka mereka menolak penalaran murni manusiawi tentang Tuhan. Tetapi beberapi teolog yang bukan fundamentalis, berpendapat bahwa iman, kepercayaan dan keyakinan agama adalah urusan individual. Kalau orang meneriamanya, itulah haknya, dan kalau ia memang meragukannya, tak usah meributkan iman orang yang tidak ragu – ragu.
Mereka yang memakai nalar menolak Tuhan, atau menganggap Tuhan hal yang tidak dapat diketahui menantang mereka yang percaya kepada Tuhan untuk mempertanggung jawabkan keyakinan akan Tuhan secara rasional, soalnya bagi orang beriman percaya pada Tuhan bukan salah satu kepercayaan subjektif seperti orang dapat percaya pada reinkarnasi, melainkan sebuah kebenaran yang menjadi dasar seluruh kehidupanya dan menyeru untuk disampaikan juga kepada orang lain.


BAB III
PENUTUP

A.           KESIMPULAN
Dalam interaksinya dengan dunia dan lingkungan social sekitarnya manusia membutuhkan pengetahuan. Maka, kebutuhan manusia dapat dikatakan juga merupakan suatu factor yang mendasari dan mendorong berkembangnya pengetahuan  manusia. Berbeda dengan binatang, manusia memiliki pengetahuan yang berasal dari pikiranya sehingga manusia  dapat belajar serta dapat mengajarkanya kepada generasi selanjutnya. Bukan hanya secara instingtif, tetapi juga secera kreatif. Pengetahuan bagi manusia selain sebagai sarana untuk hidup bagi manusia juga merupakan alat, strategi, dan kebijaksanaan yang digunakan manusia untuk berinteraksi dengan dunia dan lingkungan social sekitarnya. Pengetahuan bagi manusia merupakan upaya untuk menafsirkan, memahami dan akhirnya juga untuk menguasai dan memanfaatkan dunia sekitar guna menunjang kebutuhan hidup manusia. Pengetahuan yang benar pada dasarnya dicari manusia untuk dapat bertindak secara tepat, pengetahuan hakiki manusia pada dasarnya berasal dari peran pengalaman, logika, bahasa, serta kebutuhan hidup manusia.
Setelah mengetahui pandangan keempat tipe hubungan sains dan agama, penulis lebih mendukung dan mengakomodasi pendekatan integrasi dalam menghubungkan sains dan Islam, karena dalam hubungan integrasi ini keanekaragaman realitas yang relatif sepadu dengan Kesatuan Realitas yang Mutlak. Di mana realitas sains memiliki konvergensi dengan realitas yang diungkapkan Al-Qur’an mengenai fenomena alam dan manusia. Tanpa integritas keduanya, manusia akan terus menghadapi problematika modernitas sains di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Sains tidak dapat menolak Tuhan Personal sebab sains sendiri adalah hasil pengetahuan manusia yang sifatnya terbatas sehingga kemampuan manusia (saintisme) dalam penalarannya terhada Tuhan Persenol sebagai objek penelitian adalah keliru, selain itu adalah suatu wilayah yang secara keseluruhan berada diluar akal yang tidak dapat dijelajahi oleh filsafat.  Karena itu al Gazali benar ketika mengatakan bahwa ”Kebenaran dengan apapun yang ada diluar pengenalan manusia, maka haruslah jalan Kitab Suci (Syar’i) diambil.[17]

DAFTAR PUSTAKA


Syafa’at, Mengapa Anda Beragama Islam, Wijaya, Jakarta, 1965
Taib Thahir Abdul Muin, Ilmu Kalam II, Pen. Widjaja, Jkaarta, 1973
Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid 3, Universitas Indonesia,
Jakarta, 1985
Prof. Dr. h. Mukti Ali, Etika Agama dalam Pembentukan Kepribadian Nasional, Yayasan An-Nida’, Yogyakarta, 1969
Badan Penerbitan Filsafat UGM, Integrasi Ilmu dan Agama: Perspektif Filsafat Mulla Sadra, Yogyakarta: Kahfi Offset, 2010
Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan: Antara Sains dan Agama, Bandung: Mizan, 2002
Nasim Butt, Sains dan Masyarakat Islam, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996
Franz Magnis – Suseno, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanasius, 2006
Muzairi – Novian Widiadharma, Metafisika : UIN SUKA, 2008



[1] Syafa’at, Mengapa Anda Beragama Islam, Wijaya, Jakarta, 1965, hal. 20
[2] Taib Thahir Abdul Muin, Ilmu Kalam II, Pen. Widjaja, Jkaarta, 1973, hal. 5
[3] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid 3, Universitas Indonesia,
Jakarta, 1985, hal. 5
[4]  Prof. Dr. h. Mukti Ali, Etika Agama dalam Pembentukan Kepribadian Nasional, Yayasan An-
Nida’, Yogyakarta, 1969, hal. 9
[5] Badan Penerbitan Filsafat UGM, Integrasi Ilmu dan Agama: Perspektif Filsafat Mulla Sadra, Yogyakarta: Kahfi Offset, 2010, hal. 34
[6] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan: Antara Sains dan Agama, Bandung: Mizan, 2002, hal. 40
[7]  Ibid, hal. 47-50
[9]  Ibid, hal. 54
[10]  Ibid, hal. 56
[11]  Ibid, hal. 58
[12]  Op, Cit, hari Jumat,  jam  9:27
[13]  Ian G. Barbour, Op, Cit, hal. 59
[14]  Nasim Butt, Sains dan Masyarakat Islam, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996, hal. 135-145
[15] Ibid, hal. 136
[16] Frans Magniz – Suseno, Menalar Tuhan, Yogyakarta:  Kanasius, 2006, hal,
[17] Muzairi – Novian Widiadharma, Metafisika : UIN SUKA, 2008, Hal. 7

Tidak ada komentar :

Posting Komentar